Filosofi Kelengkeng

IMG_2990

Satu tahun yang lalu, saya disuguhi sepiring kelengkeng oleh mbak saya ketika saya dan adik, berkunjung ke Surabaya. Waktu itu mbak masih berdomisili di Surabaya, mencari rejeki dan ilmu di kota Pahlawan.

Maklum, baru pulang dari Australia, saya sedikit “kemaruk” melihat buah tropis nan manis ini. Sambil ngobrol ngalor-ngidul penuh antusiasme, mulut dan tangan tidak henti-hentinya bekerja sama, mengunyah dan mengupas kelengkeng. Hingga entah pada suapan yang kesekian, saya tersedak. Cukup parah, oh, bisa dibilang sedakan terparah yang pernah saya alami. Obrolan pun dihentikan. Mbak dan adik terlihat agak panik. Saya terbatuk-batuk cukup lama, mata berair, minum aqua gelas habis 2 botol. Mereka masih tampak cemas, namun sebenarnya saya lah yang paling bisa merasakan kekhawatiran diri sendiri. Tenggorokan benar-benar tercekat, saya diam, sempat terpikir bahwa tadi Malaikat Izrail sebenarnya sempat melirik sedikit. Wajah saya pucat pasi. Setelah itu, saya sempat puasa kelengkeng berbulan-bulan. Parno!

Nah, itu adalah secuil cerita terkait “kelengkeng”. Berlebihan sih, namun yang pernah mengalami derita tersedak, pasti sedikit banyak bisa paham. Tapi kita belum sampai ke inti cerita. Kira-kira bisa ditebak inti masalah ini dimana?

Tergesa-gesa, ini masalahnya.

Kelengkeng ini ibarat sesuatu yang “manis”, kita damba-dambakan, rejeki, berkah, atau apalah itu. Pokoknya sesuatu yang bagus-bagus. Manusia, yang sebenarnya hidup dan bertahan dari nafsu (nafsu=desire=willingness to survive) yang ada di pikirannya, ya bagaimana caranya supaya bisa menikmati “berkah” ini dengan waktu sesingkat-singkatnya atau maximum satisfaction (ini teori dan istilah ngawur karangan saya sendiri ya). Akibatnya apa? Ya tersedak ini, alias celaka. Celaka timbul karena ketergesa-gesaaan, tidak sabaran, atau impulsivity (a tendency to act on a whim, kata wikipedia). 

Manusia-manusia impulsive, seperti saya ini, cenderung sembrono, tapi hidupnya menyenangkan (ciee) karena banyak kejutan-kejutan yang diciptakan untuk mewarnai dunia yang semakin monokrom. Tapi ya itu, filosofi kelengkeng, walaupun manis, kalau kita tidak bisa menikmatinya dengan cara yang benar, bisa menjadi blunder. Sayangnya, ada banyak hal yang tidak bisa diputuskan dengan cara tergesa-gesa, atau memerlukan perencanaan yang matang.

Misalkan, ingin membeli komputer baru. Orang pada umumnya akan mencari informasi dahulu jenis komputer apa yang ingin dibeli, dimana harus membeli, toko mana yang menawarkan harga miring. Orang impulsif? Ya kalau saya sih masih browsing dulu ingin jenis komputer seperti apa. Namun jika kemudian hari tiba-tiba melihat komputer jenis yang diminati di mall, manusia impulsif ini bisa saja langsung beli tanpa harus survey harga dulu. Prinsipnya: yang penting segera dapat hari itu juga. Pardon me ya kalau menyinggung banyak manusia-manusia impulsif di luar sana (hehehe, termasuk saya).

Sama halnya dengan menikah. Ini menurut saya, adalah kata kerja yang oleh sekian juta orang Indonesia selalu disandingkan dengan kata “mohon disegerakan”. Kampret, umpat saya dalam hati. Garis hidup manusia kan berbeda-beda, ada yang seperti kelok sembilan, atau jalur Puncak Bogor, atau ada juga yang lurus seperti jalan tol Jagorawi. Itu namanya rejeki, harus disyukuri. Dan perihal menikah ini, tidak bisa disegerakan, baiklah, sedikit disegerakan tidak apa-apa, namun tidak bisa “digesa-gesakan”.

Lalu saya ingat akan postingan salah satu teman facebook tentang menikah. Bahwa menikah bukanlah menyatukan dua kebahagiaan, namun adalah ajang dimana masalah dia bertemu dengan masalahmu. Saat dimana lelahnya dia bertemu dengan lelahmu. Berat. Makanya tidak sedikit yang quit, menyerah, lalu trauma. Saya sendiri langsung merasakan marriage blue setelah membaca postingan itu.

Lalu bagaimana dengan manusia-manusia impulsif yang suka lupa filosofi kelengkeng ini? Inilah yang jadi masalah. Pernikahan itu ibarat kelengkeng, manis. Namun kalau menghadapinya dengan tergesa-gesa, atau tanpa pemikiran yang matang, ya bisa mudah tersedak.  Saya yang termasuk kaum pemuja impulsivity ini, sedikit banyak takut terjebak akan perangkap ketergesa-gesaan. Beberapa tahun terakhir lebih memilih banyak diam, pasif dan bersabar. Mencoba lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Nah, tidak bisa dibayangkan jika diumur yang masih awal 20-an dulu saya jadi “menikah”. Duh, saya tidak berani membayangkan.

By the way, saya sudah berhenti puasa kelengkeng. Tadi pagi selepas mengurus paspor di kantor imigrasi Bogor, saya membeli kelengkeng satu kg. Besar-besar dan manis. Sedikit rayuan ke Bapak pedagang, saya pun diberi bonus satu biji anggur impor (sial, cuma satu). Manis juga. Lalu saya makan pelan-pelan. Takut “tersedak”.

Advertisements

Malam kedua di Desa Telaga, tentang Equality

Ada dua hal yang selalu menjadi kesan ketika mengunjungi desa Telaga, salah satu desa tepian sungai di Kalimantan Tengah, yaitu perihal sinyal dan ikan. Pasal sinyal ini menjadi polemik ketika kita dituntut atau menuntut diri untuk selalu berhubungan dengan dunia luar. Bagi saya yang “sendiri”, kehidupan tanpa sinyal bukanlah hal yang dihindari, malah terkadang patut disyukuri karena hidup tanpa sinyal berarti lebih banyak waktu untuk berkreasi dan berkontemplasi. Yah, walaupun untuk saat ini, tidak dipungkiri kalau saya perlu sinyal (eaaa) (untuk kerja).

Kemudian tentang ikan, inilah sumber protein dan mata pencaharian masyarakat di desa Telaga. Bagaikan lagu Kerispatih, ikan tak akan lekang oleh waktu. Pagi sarapan dengan ikan goreng, siang dengan ikan kuah kuning, menu malam juga masih ikan, hanya beda sambal. Begitu setiap hari. Sebenarnya hal ini wajar mengingat populasi ikan di desa ini sudah pasti lebih banyak daripada populasi manusianya. Bagaimana tidak, desa ini 90% terletak di pinggir sungai besar, perangkap ikan hanya terletak satu jengkal dari depan rumah. Air pun masuk ke dalam rumah sudah biasa ketika pasang. Jadi bisa dibilang, desa ini adalah tipikal desa terapung khas Kalimantan. Sangat menarik.

Namun ada hal lain yang kali ini jauh lebih menarik daripada balada sinyal dan ikan. Lepas magrib, saya dan rekan memutuskan untuk berjalan memutar lewat jalan belakang (karena jalan depan terendam air pasang sungai) menuju rumah salah satu pemuka desa. Urusan kantor. Di tengah jalan, kami melihat kerumunan ibu-ibu yang sedang memancing menggunakan seikat benang, dikaitkan ke sebongkah kaleng dan jempol kaki mereka. Mereka tertawa, sambil saya lihat mengunyah sirih dan pinang. Beberapa mengepulkan asap rokok. Kami duduk, sambil menunggu pemuka desa, berbincang-bincang dengan ibu-ibu ini. Teman saya dan mereka mengobrol dengan bahasa Dayak. Kurang paham dengan pembicaraan mereka, saya diam, sesekali tersenyum, sambil mengamati gaya mereka yang sangat terkesan maskulin, walaupun mengenakan daster khas ibu-ibu. Bisa dibilang juga, otot lengan mereka lumayan tampak.

IMG_2280

Kondisi pemukiman di Desa Telaga yang berada tepat di pinggiran sungai besar

Melihat saya lebih banyak diam, teman saya tiba-tiba berbicara dalam bahasa Indonesia. “Jadi begini Puji, kalau di sini, merokok itu bukan hanya untuk Bapak-Bapak, namun juga Ibu-Ibu. Mereka kan terbiasa cari ikan malam-malam, banyak nyamuk, jadi ibu-ibu hisap asap itu sudah biasa.” Saya hanya mengangguk-angguk. Well, perihal rokok, saya tidak heran. Dengan pekerjaan yang menuntut untuk selalu bersosialisasi dengan orang dan lingkungan baru, melihat orang lain dengan budaya dan gaya masing-masing yang terkadang bertentangan dengan keyakinan saya, ibarat menonton kartun Digimon setiap Minggu pagi di Indosiar jaman dulu, sudah biasa. Karena dari sinilah kita belajar untuk melihat suatu masalah dari berbagai sisi, berempati, serta toleransi.

Kembali ke topik utama. Jadi yang membuat saya heran adalah, bagaimana ibu-ibu ini aktif membantu peran ayah sebagai pencari nafkah. Oke saya sering melihat woman farmers yang juga aktif di ladang. Tapi mencari ikan? Saya baru melihat ini. Beberapa kali saya juga melihat ibu-ibu mengemudikan perahu kecil (ces) melintas di sungai utama. Mereka benar-benar strong women  yang pernah saya temui.

Di sisi lain, sore hari, saya melihat segerombolan ibu-ibu tertawa riang, mengunyah sirih, dan main kartu remi! Saya kaget. Maksud saya, kaget karena remi identik dengan laki-laki (kecuali main mahyong yang sering ditampilkan di film-film mandarin ya, hehe). Ibu-ibu ini terlihat lepas, santai, dan semua melihatnya dengan biasa.

Satu poin yang bisa saya ambil sebagai kesimpulan. Jika kita berbicara mengenai gender equality, desa ini juaranya. Tidak hanya equality dalam hal kesempatan kerja, namun hal-hal yang sifatnya maskulin, dipatahkan ketabuannya oleh wanita-wanita di desa ini. Sangat menarik untuk dicermati dibandingkan dengan kebudayaan di Jawa yang cenderung mengedepankan norma sosial, atau pantas dan nggak pantas. Kemudian saya baru ingat, siang tadi, saya melihat seorang wanita muda, mungkin 20 tahunan umurnya, menaiki sepeda motor sport keliling lokasi tambang emas di sebelah utara desa. Tanpa alas kaki. Saya geleng-geleng kepala. Luar biasa!

Make a Call to Heaven

img_0511

Let us call her “Lily”, a dedicated accountant who lost her mother when she was 25 years old.

She sat alone on a woody bench in a small park close to her apartment. The skies were dark, and she felt blue, summoned up a fight with her boss who cancelled her promotion just because she is a woman.

From a distance, a little boy was staring at her direction, observing a magpie which has been jabbing her sandwich.

“Shooo… shooo”, Lily scared away the birds.

She was now staring back at the boy, who has ran back to his mum, asking for an ice cream.

There was an immediate ambiance emerge into her head. She missed her mother.

Lily never really gets close with her parent, as she spent most of her times away from home attending a college and now working outside her hometown. Being employed in a finance company, Lily is always busy with her job and only able to occasionally make a phone call at least once a month to her home.

A week before her mum’s gone, she managed to make a call, spending half an hour to talk a lot of stuff.

“Mum, are you OK? Your voice is a little bit odd, did you catch a cold?” Lily asked her mother.

“I am fine darling, anyway, when are you gonna be home? Maybe this weekend?” she asked her back.

“I can’t mum, I’ve told you that I cannot go back this weekend, I have an important workshop to attend and I’ll be one of the key panelists. It’s very important for my career”, Lily raised her tone slightly.

“Alright sweet heart, I believe you’ll be doing well with your workshop. Umm, but if you have time, please come to see us anytime. We miss you”, her mum calmly persuaded her.

“I want to, but I can’t mum.. I have to prepare many stuff and………..”

Lily woke up from her own memory, she always remembers the last time she had a conversation with her mum. A week after, she received a short message, exactly after she finished her presentation in that workshop, saying that her mum has gone.

Tears were streaming from her eyes now. She’s grown up and become a mature woman, but deep down inside, she always misses her mum more than anything. She remembers her when she is taken ill. Reminiscing the flavor of chicken soup that her mum cooked for her whenever she gets cold. Remember countless prayers casted by her mum whenever Lily faces examinations or important tests. Remember the way her mum rode a bicycle to work, and put her in the back saddle when she was five years old.

Lily, being an introvert girl in her youth, rarely talked heart to heart with her mother, never discussed about her school life, or her teenage love affairs. But they love each other in their own way. Love in a silence, stillness.

img_9673

Suddenly her phone was ringing, a call from her father.

“Lily, how are you doing? It’s been a while didn’t hear from you”, her father spoke in a very loud voice. Aging, she reckons. Her father turns 70 this year, and his hearing is not as great as he was 40s.

“I am good Daddy, what’s up?” Lily replied.

“Well, we’re missing you, wondering maybe you would like to come over for dinner tomorrow. Ah, do you still remember Mrs. Johnson? You went to kindy with her son. She passed away two days ago, heart attack”

“Goodness, yes I remember her. I am sorry to hear that Dad, is her family Ok? I haven’t been in touch with Josh, her son, for years. But I hope he’s strong enough for this loss.” Lily’s face’s changing.

“Yeah, I saw Josh in her funeral. They were in grief, but you know time heals every wound darling”, his father spoke in a low tone.

“Dad..”

“Yes Lily?”

“Do you miss mum?” Lily hesitantly asked.

“Of course, I’ve always missed her”, he answered.

“Me too, but I want to talk to her, face to face, and I can’t. This feeling is somehow killing me”, Lily spoke slowly, her mouth barely opened

“Lily, I understand your feeling, very well. But have you tried to make a call to heaven? To talk to her?”

Lily was about to refute, but she wanted to listen.

“Explain dad”

“Three ways Lily, your mum herself taught me to do these. First, when you make other people happy, giving away your possessions to the poor, you will have a chance to communicate with heaven, and pass your messages to your mum. Second, before you sleep, try to remember her, all the good memories. Ask heaven to send your regards to your mum, and don’t forget to pray for her peace. You might see her during your dream. Lastly, when the rain falls. The water is sent from the sky to cooling down the earth. It makes a connection, like a stair, believed to be a blessing from heaven. Raise your hands, and say that you miss her. The water will bring the message”, her father explained in a very comforting way.

There is a long pause… Her father didn’t know that there was immediate drizzle pouring down Lily’s face.

“Lily, are you ok? Are you having a bad time? You can talk to me if you want”

“No Daddy. I am completely fine, never better than this honestly. It is raining now. Talk to you later Dad. I am gonna make a call to heaven.”

Lily hang up her phone, embraced by the cold and windy rain, but it warmed her heart. For the first time, she knocked heaven’s door with her call.

——- This is only a fiction story, for a kind reminder that everything’s gonna be possible with mother’s prayer and blessing. However, when mother is no longer stay with you, you either have to put extra effort, countless prayers or infinite faith to pursue your dreams.  ———

A Pandora’s Box Named Birthday: Things I’ve Learned and Failed to Learn at My 28

(Originally posted on: Medium , inspired by an article written by Jaimee Ratliff on Medium “28 things I now know about life, work and relationship at 28” )

img_1051

Situation at Stockholm Public Library, the unique curved-bookshelves tempt every bookworm or visitor to take at least a picture

This morning when I woke up at 3 am, a good friend of mine sent me a birthday wish via personal message. “A good reminder that today is my birthday”, I talked to myself. Unfortunately I often feel an anxiety rather than a delight towards a birthday (especially in my late 20s), being sensitive in the fact that the train speeds really fast (according to John Mayer), and I am not ready for that.

So, the inner me cried, Damn I am 28! Blimey, another 2 years and I’ll be 30! Jeez, there’s so much I haven’t achieved at this age! And there was another voice creeping in my head (I don’t really care about this one but I have to admit that I worry it lately), “a foreign graduate but have no permanent job”. Disaster!

I bet I started to have a birthday syndrome, I fear too much.

Well, there is a valid reason why I start panicking a lot of stuff, “social pressure”. Dear fellas, I am telling you now that typical people in Asian countries care about many things. People want to know your inner to the outer space of you, from what kind of food you had during breakfast to the colour of your poo, from your salary to your ex! And the list goes on…

Therefore, social curiosity is a thing here, and it leads to a social pressure. Before 30, you are supposed to have a good permanent job giving you a good amount of money, to have a nice house, a fine car (doesn’t matter if your loan interest robes you), and a lover (the more serious of your relationship level, the better).

Don’t get me wrong. I understand that negativities created from social judgments can be overcome easily, depending on your perspective (and how tough you are 😀 ). And trust me, I rarely bother myself with other’s appraisal on what I wear or what’ve I done. Fluctuation in human’s vibe, alas, can lead someone into so many negativities. That I became easily tensed in a simple thing, troubled with stuff that I yet haven’t achieved and simply deserted a bouquet of wonderful things that I have accomplished.

So I contemplated myself. Sitting alone in my quite room, accompanied by a cup of tea, and a playlist full of David Rhodes’s songs (a very talented young British-singer). I started to ask questions. Is my overwhelming reaction due to dozen of high expectation when I am getting older by one year, reasonable? Do those things I called “social pressure” really exist? (well of course they do exist, but I should realise that this pressure is less severe compared to others). Or it is just me who become too loud, too harsh to myself? (I bet this is right).

For this reason, I say to myself that being unsettled in job, or being single, or even being stupid, IS NOT THE END OF THE WORLD, as long as you appreciate your life! Never ever take for granted and turn a blind eye on what you’ve achieved in the name of unsatisfied life!

Then I cast a spell to myself saying that you are too young to worry those heavy burdens, don’t forget how many people tell you that you look like 22 (this is one of the common advantages of being Asian, always look much younger than your current age). Thereafter, I wrote down a list consists of what I’ve learned and not yet-learned at my 28, in the hope that may other young people stop being unkind to themselves. Which then I realise that my last 3 years were utterly amazing and there are many proofs that actually I am doing fine.

What I’ve learned:

1. Travel (alone) will enrich your personality.

Everybody claims that travel is yes indeed one thing that people should do. I would only add that, please do travel, ALONE, to the strangest places in the world as you will see something that you wouldn’t expect to see. Trust me, once you experience the art of travelling, you’ll be addicted. After my solo travel in Europe (which I have never expected my self to do that since I am a poor coward human being), now I feel like old little Bilbo Baggins craving of new journeys to wander in queer and unexpected places.

However, never, ever, travel as it is a trend, mainstream activity as recommended by many blogs and travel agents. Do as you feel that this is the right time to explore the other side of the world.

Next stop? Maybe Africa?

2. Keep looking don’t settle!

A well-known quote from Steve Jobs at Stanford commencement day, which I found it really hard to be true. Never sacrifice yourself trapped in a job that you don’t enjoy, for the shake of your comfort zone.

3. You responsible for your own choice, but believe that everything happens for a reason.

I gave away my nice-neat job, haven’t mentioned the good salary and undisputed institution reputation, simply because I can’t become who I am in that place. Sometimes I feel that I am undesirable, I have no place, or maybe I am the one who should be flexible? Don’t think so. I responsible for my own decision and I believe that one day I will find the right place at the right time. So keep looking, don’t settle!

4. Don’t be too penny-pinching to yourself.

Aha! That was me! Even need to think several times just to treat me a good coffee after a day of full work! You work, you earn money, for whom? For yourself. Thus, treat yourself decently because you deserve.

5. Being perfectionist is utterly OK, but don’t be too ambitious.

Indeed, producing a great job is essential, but never sacrifice your health. There is no peace in the heart of people who keep on desiring to be number one. Chill out!

6. Don’t be afraid of being single.

This! I think I need to write more stuff on this topic.

My college (35 years old), finds his life incomplete due to his single status (totally understood). Another friend (25 years old), grumbles her loneliness for live without a lover (well, fine). A cousin (15 years old), thinks her life is misery as she has no boyfriend (what?!).

I would admit that I had been in that situation, but lately, I never understand why so many young people worry about NOT YET being able to find her/his lover? At worse, why so many people care about the “singleness” status of others? And start to feel that “single” joke is the best joke ever in the world?

Here is the fact: I am single in these last 3 years, and I found much more happiness when I date myself. Luckily I understand that there are many awesome people out of there, be brave to stay single, because they choose to improve themselves, which might become incomplete if they do those jobs with somebody.

7. They’re just not into you!

You know this movie don’t you? Never bother yourself dreaming about somebody who don’t trouble him/herself to understand you.

8. “When you’re strong enough to let it in, you’ll strong enough to let it go” (a song from Birdy & Rhodes). Letting go is much harder indeed, as it requires us to forgive our past.

9. Coffee and tea save my mood.

If you hesitate about the power of caffeine, ask people who would spend 4 euro for a cup of espresso or 250 euro for 250 gram of coffee beans. Insane but true!

10. Books save my time.

I found that the best way of procrastination is reading books (any book) (and cooking actually). There were several days during my holiday when I didn’t feel want to go outside rather than clutch on my bed. So I ended up finishing almost the whole tales of JRR Tolkien and re-reading all Harry Potter series.

11. Good songs enlighten my bad times.

If only plugging headphone on my ears can do no harm on my hearing, I might never unplug it.

12. Unless you are a photographer, capturing every moment with your phone/camera is not so-wise style. Try to use your brain memory instead.

13. Hold tight onto something (religion, faith, believe, etc) that can be your last savior in your hard times.

What I’ve failed to learn and soon need to re-learn again:

1. Stay close with your old friends.

This way I regret the most. I am not really a sweet talker and thus, really hard to re-start a conversation with old friends who’ve been ages lost in touch. Shame on me.

2. Never ruin your sleeping rhythm.

Unless you want to torture your body, never disturb your sleeping rhythm. Sleep earlier, wake up earlier, eat healthy food, discipline with your time (yes, it is difficult in practice, but at least try!).

3. Talk with the elders.

Despite reading books or indulge you hobby during your leisure time, try to start a conversation with the elders around you. They have myriad tales of life that are very fascinating to hear.

4. Life does not consist of good wizards and death eaters.

My favourite words from Albus Dumbledore! Life is not separated into black and white circles. Every people are born in white, but their choice define their life, and reason underlying their decision is not because white and black things. We need to understand why.

5. Start to ignore people’s judgement. You live your life, wear what you want to wear, do what you want to do. But somehow we still care with social judgement, don’t we? One day I went to a big-elite shopping mall with my sandals and very causal (let’s say, old) t-shirt, I went to a camera store, the shopkeepers seemed to overlook me, but I just wanted to buy a mirrorless camera, cash. After that, I never care what I wear when I go to any shopping mall.

6. Neighbour’s garden is always greener than ours.

Jealousy! A very natural human character, yet, very dangerous. I believe we’ll end up suicide if we keep on thinking that other’s life is better. Instead, why don’t we think the vice versa? Ever count how many people envying our life?

At the end, I let you to draw your own conclusion from this long story. But If I may to give you an advice, I will choose this quote: Age is just a number, Youth is a state of mind, and Wisdom is only a perception of understanding.

Ps: another contemplation emerge after I wrote this story: why can’t I write 1800 words of college assignment as fast as writing this article? LOL

Puasa 20 jam-an di OSLO

IMG_1961

Suasana berbuka puasa di dapur asrama bersama students lain from all over the world

Halo people!

Apa kabar? Pasti lagi sibuk persiapan mudik ya? Ehh semoga izin cuti yang sudah dikantongi jauh-jauh hari nggak dicabut ya upps J

Kebetulan tahun ini (lagi) saya tidak bisa berlebaran di kampung halaman. Tahun kemarin lebarannya di atas pesawat (What a pity T___T ), nah tahun ini mendapat kesempatan untuk berlebaran di Oslo, Norway.

Lah kok tetiba Norway? Yups, alhamdulilah dapat rejeki dari Gusti Pengeran untuk mengikuti summer course selama 6 minggu (plus 2 minggu rencana untuk plesir) di University of Oslo. Saya mengambil course “Energy, Environment and Sustainable Development”. Nah cerita-cerita tentang coursenya lain kali saja ya, karena saat ini saya mau membahas tentang puasa.

Betul, puasa saat summer di belahan bumi sebelah utara, apalagi di negara Scandinavian memang cukup “alhamdulillah” tantangannya. In total dalam sehari kita harus berpuasa kurang lebih 20 jam (banyak lebihnya J ), dimulai dari jam 3 an pagi (imsak) dan buka puasa jam 10.45ish.

Hari pertama menginjakkan kaki di Oslo saya memilih untuk tidak berpuasa dulu. Ceritanya karena tidak tahan dengan keringnya udara di dalam pesawat (16 hours flight from Jakarta-Oslo) dan adaptasi dulu dengan cuaca di sini. Yup, people call this summer! But in fact, menurut saya ini sama saja dengan early winter di Lismore, Australia. Suhu udara berkisar antara 10-20 derajat C (bagi saya ini sudah cukup dingin), ditambah dengan breeze yang bikin menggigil. Terbukti setiap malam hidung saya selalu ingusan, meler tiada henti sampai subuh. hehehe

Nah, hari kedua di sini, saya mulai mencoba berpuasa, dan sayangnya, tanpa sahur. Pengalaman hari pertama? Alhamdulillah kuat! Rasa lapar dan haus ya sama lah seperti puasa di Indonesia. Hanya saja yang sedikit membedakan adalah rasa kering dan pahit di tenggorokan setiap pukul 06.00 pm ke atas. Mungkin juga akibat track record maag saya sih. Namun sebenarnya rasa lapar dan haus puasa selama 20 jam lebih bukanlah menjadi masalah berarti. Bagi saya, tantangan terbesar puasa di sini adalah menahan hawa nafsu untuk makan! Bawaannya kepengin mulu saat melihat orang lain makan. Sempat cari-cari excuses untuk berpuasa mengikuti waktu Mekah, namun akhirnya saya kubur dalam-dalam mengingat saya fit 100% untuk berpuasa selama 20 jam-an, just because of the desire to eat, I am not gonna sacrifice my fasting.

Hehe,, tapi serius, godaan untuk makan itu luar biasa sekali. Apalagi melihat menu-menu baru yang disajikan di canteen dormitory (Yes we are catered!) yang super healthy (various salad bar, vegetarian food, potatoes – yes potatoes! J etc), saya hanya bisa ngeces. LOL. Dan setiap jam 6 sore ke atas, saya sudah seperti anak TK yang mulai menghitung waktu mundur waktu berbuka puasa. J

Untungnya di sini ada beberapa fellows dari Tanzania, Uganda, Gambia, Kashmir, Syria, Egypt, Jordan dan beberapa negara middle-east lainnya yang ikut berpuasa 20 jam-an. So, I am not feeling alone! Walaupun ada beberapa kawan Muslim yang memilih untuk tidak berpuasa, kami tetap menghormati pilihan masing-masing.

Selepas magrib, kami biasanya kumpul di kitchen dormitory dan berbuka puasa bersama plus ngobrol hingga jam 12 malam. Ngobrol ngalor ngidul mulai dari topik “poor developing countries” (yang ujung-ujungnya selalu nyinggung US J ) hingga topik religi. Nah jam 12 saya mulai solat Isya’, lalu ngemil hingga subuh (kadang lepas isya langsung tidur sampai subuh) J

So intinya, tidak ada yang tidak mungkin asalkan ada niat baik. Alhamdulillah sudah terbukti bahwa tubuh mampu untuk berpuasa 20 jam lebih (dan hanya sekali makan dalam sehari). Yang membuat kita tidak mampu hanyalah mindset dan keyakinan saja. Asalkan sudah yakin mampu, inshaAllah bisa. (tapi tetep sih jujur dari dalam hati masih menunggu-nunggu kapan “bocor” biar bisa keliling dari satu café ke café yang lain.. Ya Allah ampunilah hambamu yang memiliki selemah-lemahnya iman ini T____T)

Selamat berpuasa!

(note, yes sejam lagi buka puasa! 😛 , oiya, foto buka puasa barengnya menyusul ya)    

No-Knead Bread Recipe – Resep Roti Starter

G’day!

Seperti biasa memasak adalah salah satu pelarian paling menyenangkan dan mengenyangkan ketika kepala tidak bisa diajak kompromi dengan berbagai kesibukan. Sebulan ini saya sibuk dengan field work dan lab-work untuk mempersiapkan master thesis. Agak stres juga karena beban lab yang masih melimpah dan alhasil writing saya pun terabaikan. So, suatu hari, pergilah saya ke shopping center dan entah kenapa saya tertarik dengan sordough yang ada di etalase roti. Bisa ditebak, beberapa hari kemudian saya sibuk berkreasi dengan roti keras tersebut. Ada yang dibikin sandwich vegetarian, bagel, dimakan dengan nutela, butter atau cream cheese, atau dibuat ala-ala bruschetta.

Nah, akhirnya saya isenglah googling resep untuk sejenis roti sordough/baguette/prancis dan sejenisnya. Ternyata mudah! Cukup Tepung roti, ragi, garam dan air. That’s it! Setelah googling beberapa kali akhirnya saya menemukan resep roti yang tanpa perlu “ngulen” alias ngga pake capek. Resep No-Knead Bread ini kalau tidak salah dipopulerkan oleh NY times beberapa tahun yang lalu and it went viral! So here’s the recipe:

Ingredients:

  • 3 cups un-bleached bread flour/bisa dikreasikan dengan wholemeal bread flour (bisa juga pakai plain flour biasa/tepung terigu biasa namun hasilnya akan kurang maksimal)
  • 1/4 tsp yeast/ragi
  • 1 1/4 tsp salt
  • 1 1/2 cups air suhu ruangan

Methods:

  • Campur semua bahan kering di dalam mangkuk besar dan aduk rata menggunakan wooden spoon.
  • Setelah semua bahan tercampur, tambahkan air dan aduk kembali menggunakan wooden spoon sampai semua bahan tercampur sempurna.
  • Tutup dengan plastic wrap dan diamkan adonan di dalam suhu ruangan selama kurang lebih 18 jam. Mula-mula adonan akan terlihat seperti di gambar 1, namun setelah 5 jam atau lebih adonan akan mengembang setinggi tepi mangkuk.

    Gambar 1. starter dough setelah semua bahan tercampur

    Gambar 1. starter dough setelah semua bahan tercampur

  • Setelah 18 jam, keluarkan adonan dan letakkan di atas papan/meja yang telah ditaburi tepung. Adonan akan menjadi sangat lentur, oleh karena itu bentuk adonan seperti bola gepeng.
  • Siapkan cooking towel/lap/baking paper, lumuri dengan tepung terigu, kemudian letakkan adonan di atasnya. Tutup dengan sisa lap/cooking towel/baking paper dan diamkan selama 1-2 jam.
  • Panaskan overn 250 derajat C selama 30 menit, kemudian letakkan adonan di atas tray, oven selama 30-45 menit.
  • Oiya, jika anda punya biji2an, bisa ditaburkan di atas adonan (Sebelum adonan tertutup dengan tepung yang kering)
    Gambar 2. Penampakan fresh from the oven

    Gambar 2. Penampakan fresh from the oven

    Gambar 3. Bagian dalam yang berongga namun keras dan crusty di bagian kulitnya

    Gambar 3. Bagian dalam yang berongga namun keras dan crusty di bagian kulitnya

Mudah bukan? Roti ini sangat cocok untuk disajikan untuk morning/afternoon tea, cukup dengan dioleskan butter/selai ataupun dijadikan sandwich untuk bekal makan siang. Jika roti tidak habis dalam beberapa hari dan mulai mengeras, cukup dipanggang di dalam toaster selama >2 menit, oleskan butter dan garlic/aneka topping, then it turns into bagel/bruschetta/garlic bread! Selamat mencoba!

Jawaban Tuhan di Binnaburra-O’reilly’s trip

Seperti biasa saya lama nggak buka blog tua ini, yang lahir dari jaman galau skripsi sampai sekarang jaman galau tesis, tapi tetep aja jumlah postingannya belum juga kepala 3. Hehehe

Tapi hari ini saya ada cerita menarik, masih seputaran kisah jalan-jalan modal subsidian di Australia sih, tapi worth enough buat diceritain di blog (seperti biasa karena saya orangnya malas abis, jadi hanya cerita “penting” lah yang akan berhasil nongkrong di blog ini. hehe).

Dimulai dari ide seorang rekan kuliah asal Kolombia yang akan menyelesaikan studinya tahun ini, ditambah kemurahan hati seorang dosen yang hobi banget jalan-jalan (dalam artian beneran jalan pake kaki), muncullah acara “end year forestry student gathering”. Berhubung kita forestry students dan penyandang dana utama adalah pihak School (read:fakultas), maka acara utamannya bukannya party tapi camping plus bush walking di salah satu national park di Queensland.

Upss, campingnya sih biasa aja, akan tetapi, bush walkingnya bukanlah bush walking biasa, kata Afgan 🙂 . Kali ini kita akan jalan-jalan di hutan sejauh 21,6 km (ada juga yang menyebutkan 22 km) dari Binna Burra ke O’reilly’s melalui jalur Border Track di Lamington National Park. Nah acara ini jadi lebih spesial karena selain pesertanya yang eksklusif cuma kami-kami saja (forestry students), 3 dosen favorit kami ternyata ikut juga. Satu dosen merangkap sebagai supir (di Indo mana mau dosen jadi supir 😀 ), satu dosen yg sudah dianggap sebagai God Father nya anak-anak Forestry sebagai event organiser, dan satu lagi tamu kehormatan karena peran gandanya sebagai promotor alias pencair dana dan sebagai head of school (dekan). Pokoknya trip kali ini luar biasa suatu “previlage” bagi kami deh.

Singkat cerita, jam 5 pagi kami tim konsumsi sudah bangun siap segera menyiapkan makan pagi. Untung menunya cuma buah potong, cereal dan toast aja sih. Coba menu sarapannya nasi goreng, bubur ayam, atau menu-menu sarapan ala Indonesia lainnya, bisa-bisa kita harus bangun jam 3 pagi! Hahaha, untuk hal yang satu ini saya ucapkan puji syukur yang luar biasa kehadirat Tuhan YME, Alhamdulillah Ya Allah bule kagak demen sarapan pake nasi goreng!

Sejam kemudian, kami selesai sarapan dan kemas-kemas, dan akhirnya jam 7 pagi teng kita siap berangkat. Sudah seperti yang saya duga sih, perjalanannya nggak akan seberat jalur pendakian Gunung Ciremai yang mewajibkan si pendaki untuk nungging sampai koprol. Secara umum, jalurnya cukup rata, kadang ada juga naik/turun (wajar lah hidup aja ngga ada yg datar) namun tidak terlalu ekstrim. Eitss tapi tunggu dulu, namanya jalan 22 km, meskipun bisa dibilang jalurnya lempeng-lempeng saja ditambah harus mengimbangi speed bule yang langkahnya puanjang-puanjang,walhasil saya keok juga setelah sampai finish. Walaupun masih bisa mengimbangi kecepatan rombongan, namun malam harinya kaki ndak bisa bohong. Nonstop jalan 7 jam membuat kaki saya benar-benar ngilu, rasanya kayak ada batu bata 1 ton nangkring di atas kaki!

Tapi bukan disini inti ceritanya. Pengalaman selama jalan 22 km bersama rekan seperjuangan, dosen dan dekan memang luar biasa. Namun ada hal lain yang membuat saya sempat tersenyum penuh makna (cieeh) di tengah perjalanan.

Jadi begini, semester kemarin saya mengambil 2 mata kuliah “Fire Ecology and Management” dan “Plant Physiology and Ecology”. Kebetulan keduanya sering sekali menyinggung tentang biogeografi vegetasi di Australia mulai dari sebelum “Gondwana breakage” sampai saat ini. Alkisah, sebelum benua Australia ini didominasi oleh Eucalyptus, dahulu hutannya didominasi oleh rainforest dengan komposisi yang mirip dengan benua lain sesama penghuni Gondwana land. Nah spesies yang mendominasi saat itu salah satunya adalah Antarctic beech alias Nothofagus. Setelah Gondwana bercerai berai, dominasi Nothofagus kemudian digantikan oleh dominasi Eucalyptus. Keberadaannya pun hanya terbatas di dataran tinggi, Tasmania dan New Zealand. 

Karena si Nothofagus ini sering sekali disebut di bahan kuliah, jadilah saya penasaran, seperti apa sih penampakannya. Namun rasa penasaran saya cuma sebatas rasa penasaran in terms of “historical value” nya, dan saya nggak terlalu ngarep pengen lihat mengingat habitatnya yang jauuh antah berantah dari lokasi saya tinggal dan in fact bahwa kayunya kurang menarik di dunia perbisnisan 😛

Akhirnya, tanpa diduga dan dikira, tiba-tiba Tuhan menjawab rasa penasaran saya. Saya dipertemukan dengan spesies kuno ini di tengah perjalanan dari Binna burra ke O’reilly’s. Benar-benar ngga nyangka bisa ketemu spesies ini. Seneng, kaget, campur aduk lah rasanya karena saya kira Nothofagus cuma tersisa di Tassie/NZ saja. Sempat speechless beberapa detik, tapi kemudian saya cuma bisa tersenyum dan mbatin “tuh satu lagi pikiranmu dibaca Tuhan dan diwujudkan menjadi kenyataan padahal situnya ngga doa minta dipertemukan sama Mbah Nothofagus”

Lagi lagi saya cuma bisa dibuat melongo sama kuasa Tuhan. Maka nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan?

Kumpulan Nothofagus dan Prof Jerry

Kumpulan Nothofagus dan Prof Jerry. Pohon ini diberi nama beech karena penampakan kayunya yang menyerupai European beech

These majestic tree description

These majestic tree description

Batang Nothofagus

Batang Nothofagus