Andrea Hirata – Tere Liye

(salah satu posting gw dengan bahasa resmi. read: no lu/gue)

Two persons above are my fav writer. Karya mereka luar biasa,  memiliki ciri khas dan bukunya selalu bermakna, membekas dalam hati.

Nah,, sejak SD saya memang paling senang membaca, apapun itu. Dan juga hobbi menulis (puisi, mengarang bebas, dsb). Jaman dulu jika teman-teman saya bisa menulis 1 lembar karangan, maka saya bisa 2-3x lipatnya.

Akan tetapi dengan berjalannya waktu saat SMA saya mulai jarang menulis dan membaca. Seperti seorang remaja yang seolah-olah kehilangan hobby lamanya.

Hingga saat saya kuliah minat membaca dan menulis mulai muncul kembali. Setiap Buku terbaru Harry Potter terbit, saya sibuk cari pinjeman sana sini. Maklum tidak mampu beli. Hehe. Tapi disini sy tidak akan membahas JK Rowling. Kali iini saya ingin sedikit membahas mengenai 2 penulis lokal yang begittu luar biasa.

Pertama kali saya baca novel Pak Cik “Ikal” adalah buku Edensor. Saya langsung jatuh hati dengan gaya penulisannya. Besoknya saya langsung ke Grameduntuk cari buku lanjutannya “Maryamah Karpov”.

Akan tetapi dari semua novel Andrea yang sudah saya baca (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, edensor, Maryamah Karpov, Dwilogi Padang Bulang-Cinta dalam gelas, dan Sebelas Patriot) yang paling saya sukai adalah kedua buku di atas. Bahkan setiap malam buku tersebut menjadi buku wajib pengantar tidur.

Entah mengapa gaya Andrea menulis novel benar-benar bisa menghipnotis saya. Padahal saya tipe orang yang cukup sulit untuk mencintai suatu buku secara berlebihan. Saking terinspirasinya dengan novel tersebut, jika Andrea punya buku besar peminum kopi, maka saya ingin punya bku besar pengguna facebook. Jika Ikal pernah sebagai pegawai di warung kopi, maka saya ingin punya sebuah kedai kopi. hehe😛

Nah yang kedua adalah Tere Liye. Menurut saya penulis yang satu ini lebih cuek dalam menulis. Kalau menurut saya bahasa Andrea begitu detail, dan semua saya baca secara pelan-pelan dengan penuh penghayatan, namun setiap buku Tere Liye selalu sukses membuat saya untuk membacanya dengan terburu-buru hingga langsung loncat ke Bab terakhir. Perbedaan lainnya adalah jika saya sering membaca ulang buku Andrea, maka saya tidak pernah membaca ulang buku Tere Liye.

Perbedaan di atas menurut saya tidak menunjukkan mana yang lebih baik, karena saya sama-sama jatuh cinta dengan karya-karya beliau-beliau ini. Hal ini mungkin lebih karena gaya penulisan dan tema yang berbeda.

Dari beberapa buku Tere Liye yang saya baca (hafalan Salat Delisa, Bidadari-Bidadari Surga, Ayahku bukan pembohong, Sang Penandai, Sunset Bersama Rosie, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Kau dan Aku dan Sepucuk Angpau Merah) maka yang menjadi buku fav saya lagi-lagi ada 2 : BIdadari-bidadari surga dan Ayahku Bukan Pembohong.

Kedua novel tersebut sukses membuat mata saya bengkak gara-gara nekat semalam suntuk baca buku sambil nangis. hehehe.

Anyway, sudah selayaknya kita bangga dengan dunia Sastra Indonesia. Two Thumbs lah Pokonya!😀

2 thoughts on “Andrea Hirata – Tere Liye

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s