If you are different, doesn’t mean that you are unacceptable

G’day!

Waktu menunjukkan pukul 11.56 NSW time, dan ini kali pertama saya kutak-katik blog saya setelah jarang dibelai setahun lebih. hehe. Bukannya sok sibuk atau apa, tapi entah kenapa passion nulis semenjak bermukim di negeri wallaby (karena julukan “negeri kanguru” terlalu mainstream) ini hilang ditelan bumi. Mungkin karena saya sibuk dengan urusan pribadi seperti “Assignments” atau sejenisnya ya, walaupun mungkin lebih tepatnya sibuk observing bule-bule ganteng. hehe😛

Menjalankan tugas belajar di kota kecil seperti Lis**** sebenarnya bisa dikatakan “not bad”, walaupun tidak bisa juga dimasukkan dalam kategori “so good”. Hidup santai, biaya akomodasi murah meriah, entertainment terbatas so saving pun tetep jalan. Jeleknya, you will not survive if you don’t have a car! or at least have a good friend who has a car😀
Transportasi cukup parah [jeleknya], bus baru akan melewati halte yg sama setiap 1-3 jam sekali, tidak semua area tercover transportasi umum, even Sabtu-Minggu bus ikutan libur!. Bahkan ada anggapan bahwa bus hanya untuk lansia dan bisa dikatakan semua muda-mudi disini punya mobil. Hahahaa, no wonder ketika ada international student yang baru datang, the first thing given to you from International Officer is local taxi phone number.

Apalagi bagi seorang muslim, ada tantangn lain yg cukup berat yaitu mendapatkan makanan halal. Jangan harap bisa menemukan McD atau Kfc halal ya, bahkan untuk memperoleh halal beef pun anda harus menempuh 2 jam perjalanan driving, alias silakan anda ke Brisbane dulu! Untungnya masih ada beberapa produk ayam halal di lokal supermarket. Alhamdulillah, at least setiap hari tdk perlu makan tahu-tempe atau ikan, karena harganya bisa bikin sakit hati kalau dibandingkan dengan harga tempe di Indonesia. haha.. Kapan-kapan saya posting tulisan khusus tentang “halal” food ya🙂

Akan tetapi, food is not a big deal. Yang membuat saya sedikit “upset” adalah bagaimana warga lokal memperlakukan warga asing yg “berbeda”. Kata berbeda ini saya sadur dari tulisan Tim Flannery di “Beautiful Lies” yg menyebutkan bahwa ” Moslem is always different, you know?” Terkikik-kikik saya sebenarnya pas baca tulisan tersebut, tapi ada benarnya juga apa yg dia sampaikan.

Orang pasti akan merasa aneh ketika melihat ada satu orang berpakain serba panjang sedangkan orang lain memakai bikini saat di pantai. Atau contoh lainnya, suhu saat ini 40 derajat celcius, paling enak pakai hotpants, tanktop, atau apalah yg serba minim tapi style satu orang ini tak berubah dari winter-summer, semua serba tertutup, pakai head cover lagi. Belum lagi ketika semua makan sousage saat BBQ party, minum wine-beer, namun orang ini dengan pasrahnya bilang “sorry I am full”, “Sorry I don’t drink/eat meat/pork”, atau bahkan ketika malas explain sana sini cukup bilang “I am vegan and I don’t drink any alcohol”.

Tentunya sauya tidak akan menyalahkan ketika sedang jalan di mall semua orang akan langsung memandangi atau paling nggak melirik dari ujung kaki sampai ujung kepala ketika melihat seorang muslim berhijab. Itu adalah barang langka di kota kecil macam Lis**** ini, maka siapa yg tak akan heran? Tapi baru kali ini saya merasa benar2 “terpinggirkan” setelah hampir 9 bulan tinggal di sini. I am pretty sure that I will not experience any physical harassment here. Serasis rasisnya negara maju, pasti warga negaranya bisa berfikir “rasional”, ya kecuali orang tersebut gila atau mabuk. Namun lama-kelamaan saya merasa jengah juga ketika setiap berkunjung ke shopping centre selalu diliatin orang. Bahkan sampai saat ini untuk menemukan temen “bule” yg bukan sekedar teman say hello pun susah!

Salah satu teman yg sudah hampir 2 tahun study di sini mengeluarkan statement yg cukup unik “Kalau kamu nggak ikut party mereka, minum, and dance, don’t ever think that you can enter their society!” Dan saya rasa statement beliau ini ada benarnya juga, dan tidak heran juga ketika ada international student, temennya ya sesama international student juga. Sudah hampir 6 bulan saya tinggal di college accommodation tapi temen bule saya ya paling itu-itu aja. Kalau ada pesta BBQ, ya saya cuma bisa datang sebentar, say hello, lalu pergi. Mau bagaimana lagi, mereka minum dan makan sesuatu yg tidak bisa saya minum/makan. Serasa jadi kambing congek kalau ikut party mereka.

Salah satu pengalaman paling menjengkelkan adalah pertemanan di dunia maya. They say “feel free to add my facebook”. Di add beneran, eh g di accept. Bahkan ada yg sudah di accept, lalu di remove. Hehehe, cukup tau lah. Namanya juga dunia maya. Oiya satu lagi kasus lucu. Tadi sore saya diantar teman balik ke asrama untuk mengambil suatu barang dari rumah. Saya di drop di depan pintu persis dan teman saya nunggu di dalan mobil di depan rumah. Kebetulan sedang ada party di swimming pool asrama yg dari arah pool tersebut bisa melihat langsung depan pintu rumah saya. Setelah keluar dari rumah, teman saya nyeletuk ” Mereka ngapain sih daritadi ngeliatin ke arah sini mulu, mereka pikir mereka ndak keliatan apa dari kaca spion”. Saya senyum dan cuma bisa mbatin “kita ini terlalu cantik untuk tidak dilihat” Hahaha

Upppsss,, tapi tunggu dulu.. kasus-kasus di atas hanyalah kasus yg melibatkan ABG-ABG muda di sini. Mostly academicians atau senior citizens nya baik-baik. Rasa sebal oleh tatapan-tatapan intimidatif di square kadang terobati ketika ada satu bapak-bapak yg tersenyum dengan ramah and say “hi, how are you goin?” Ataupun rasa sakit hati karena diomongin dari belakang kadang hilang ketika pas ditengah jalan dan mobil mogok,ada seseorang yg mendekat dan bilang “do you need a hand on?”

Hehe, ya setelah dipikir-pikir, buat apa mikirin hal-hal negative yang hanya akan mempengaruhi mood dan pola berpikir kita. Toh masih ada segelintir orang yg bisa melihat “kita” sebagai manusia biasa pada umumnya. Jika menjadi sama pun belum tentu diterima oleh semua golongan, what do you expect when you are so different from others? Dan belum tentu menutup kemungkinan kalau kita “unacceptable” juga kan?
Selagi masih ada orang yg bisa menerima “kita”, mengapa harus sibuk memikirkan orang yg menolak “kita”?

Pelajaran bagi saya, bahwa dunia memang sumber biodiversitas bagi segala hal. Warna kulit, keyakinan, makanan kesukaan, pola pikir, bahkan bau kentut pada orang yg sama pun berbeda-beda setiap harinya. dan bagian terpentingnya adalah enjoy your life wherever you are!!!

Heheehe.. selamat malam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s