Jawaban Tuhan di Binnaburra-O’reilly’s trip

Seperti biasa saya lama nggak buka blog tua ini, yang lahir dari jaman galau skripsi sampai sekarang jaman galau tesis, tapi tetep aja jumlah postingannya belum juga kepala 3. Hehehe

Tapi hari ini saya ada cerita menarik, masih seputaran kisah jalan-jalan modal subsidian di Australia sih, tapi worth enough buat diceritain di blog (seperti biasa karena saya orangnya malas abis, jadi hanya cerita “penting” lah yang akan berhasil nongkrong di blog ini. hehe).

Dimulai dari ide seorang rekan kuliah asal Kolombia yang akan menyelesaikan studinya tahun ini, ditambah kemurahan hati seorang dosen yang hobi banget jalan-jalan (dalam artian beneran jalan pake kaki), muncullah acara “end year forestry student gathering”. Berhubung kita forestry students dan penyandang dana utama adalah pihak School (read:fakultas), maka acara utamannya bukannya party tapi camping plus bush walking di salah satu national park di Queensland.

Upss, campingnya sih biasa aja, akan tetapi, bush walkingnya bukanlah bush walking biasa, kata Afgan🙂 . Kali ini kita akan jalan-jalan di hutan sejauh 21,6 km (ada juga yang menyebutkan 22 km) dari Binna Burra ke O’reilly’s melalui jalur Border Track di Lamington National Park. Nah acara ini jadi lebih spesial karena selain pesertanya yang eksklusif cuma kami-kami saja (forestry students), 3 dosen favorit kami ternyata ikut juga. Satu dosen merangkap sebagai supir (di Indo mana mau dosen jadi supir😀 ), satu dosen yg sudah dianggap sebagai God Father nya anak-anak Forestry sebagai event organiser, dan satu lagi tamu kehormatan karena peran gandanya sebagai promotor alias pencair dana dan sebagai head of school (dekan). Pokoknya trip kali ini luar biasa suatu “previlage” bagi kami deh.

Singkat cerita, jam 5 pagi kami tim konsumsi sudah bangun siap segera menyiapkan makan pagi. Untung menunya cuma buah potong, cereal dan toast aja sih. Coba menu sarapannya nasi goreng, bubur ayam, atau menu-menu sarapan ala Indonesia lainnya, bisa-bisa kita harus bangun jam 3 pagi! Hahaha, untuk hal yang satu ini saya ucapkan puji syukur yang luar biasa kehadirat Tuhan YME, Alhamdulillah Ya Allah bule kagak demen sarapan pake nasi goreng!

Sejam kemudian, kami selesai sarapan dan kemas-kemas, dan akhirnya jam 7 pagi teng kita siap berangkat. Sudah seperti yang saya duga sih, perjalanannya nggak akan seberat jalur pendakian Gunung Ciremai yang mewajibkan si pendaki untuk nungging sampai koprol. Secara umum, jalurnya cukup rata, kadang ada juga naik/turun (wajar lah hidup aja ngga ada yg datar) namun tidak terlalu ekstrim. Eitss tapi tunggu dulu, namanya jalan 22 km, meskipun bisa dibilang jalurnya lempeng-lempeng saja ditambah harus mengimbangi speed bule yang langkahnya puanjang-puanjang,walhasil saya keok juga setelah sampai finish. Walaupun masih bisa mengimbangi kecepatan rombongan, namun malam harinya kaki ndak bisa bohong. Nonstop jalan 7 jam membuat kaki saya benar-benar ngilu, rasanya kayak ada batu bata 1 ton nangkring di atas kaki!

Tapi bukan disini inti ceritanya. Pengalaman selama jalan 22 km bersama rekan seperjuangan, dosen dan dekan memang luar biasa. Namun ada hal lain yang membuat saya sempat tersenyum penuh makna (cieeh) di tengah perjalanan.

Jadi begini, semester kemarin saya mengambil 2 mata kuliah “Fire Ecology and Management” dan “Plant Physiology and Ecology”. Kebetulan keduanya sering sekali menyinggung tentang biogeografi vegetasi di Australia mulai dari sebelum “Gondwana breakage” sampai saat ini. Alkisah, sebelum benua Australia ini didominasi oleh Eucalyptus, dahulu hutannya didominasi oleh rainforest dengan komposisi yang mirip dengan benua lain sesama penghuni Gondwana land. Nah spesies yang mendominasi saat itu salah satunya adalah Antarctic beech alias Nothofagus. Setelah Gondwana bercerai berai, dominasi Nothofagus kemudian digantikan oleh dominasi Eucalyptus. Keberadaannya pun hanya terbatas di dataran tinggi, Tasmania dan New Zealand. 

Karena si Nothofagus ini sering sekali disebut di bahan kuliah, jadilah saya penasaran, seperti apa sih penampakannya. Namun rasa penasaran saya cuma sebatas rasa penasaran in terms of “historical value” nya, dan saya nggak terlalu ngarep pengen lihat mengingat habitatnya yang jauuh antah berantah dari lokasi saya tinggal dan in fact bahwa kayunya kurang menarik di dunia perbisnisan :P

Akhirnya, tanpa diduga dan dikira, tiba-tiba Tuhan menjawab rasa penasaran saya. Saya dipertemukan dengan spesies kuno ini di tengah perjalanan dari Binna burra ke O’reilly’s. Benar-benar ngga nyangka bisa ketemu spesies ini. Seneng, kaget, campur aduk lah rasanya karena saya kira Nothofagus cuma tersisa di Tassie/NZ saja. Sempat speechless beberapa detik, tapi kemudian saya cuma bisa tersenyum dan mbatin “tuh satu lagi pikiranmu dibaca Tuhan dan diwujudkan menjadi kenyataan padahal situnya ngga doa minta dipertemukan sama Mbah Nothofagus”

Lagi lagi saya cuma bisa dibuat melongo sama kuasa Tuhan. Maka nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan?

Kumpulan Nothofagus dan Prof Jerry

Kumpulan Nothofagus dan Prof Jerry. Pohon ini diberi nama beech karena penampakan kayunya yang menyerupai European beech

These majestic tree description

These majestic tree description

Batang Nothofagus

Batang Nothofagus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s